Follow me on Twitter RSS FEED

ADA YANG MEMPERHATIKAN KITA

Posted in
Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dengan
tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus, dengan tangannya yang lain dia meraba
posisi di mana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke dalam bus
mencari-cari bangku yang kosong dengan tangannya. Setelah yakin bangku yang
dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya
masih memegang tongkat.
atu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu kecelakaan telah
berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia
tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah
wanita yang penuh dengan ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik
di sekolah, rumah maupun di linkungannya.
Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi,
dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yang
selama ini dicita-citakan. Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yang sanggup
menolongnya selalu membisiki hatinya. "Bagaimana ini bisa terjadi padaku?" dia
menangis. Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak
apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia
berdo'a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.
Di antara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai
suami yang begitu penyayang dan setia, Burhan. Burhan adalah seorang prajurit TNI
biasa yang bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Yasmin
dengan seluruh hatinya. Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa
cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya
Yasmin tenggelam ke dalam jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong
mengembalikan rasa percaya diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta.
Burhan tahu, ini adalah perjuangan yang tidak gampang. Butuh extra waktu dan
kesabaran yang tidak sedikit.
Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dengan
terhormat. Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile. dengan harapan, suatu
saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan
untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada
kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan.
Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana
saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan
sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yang akan melindunginya ketika sendirian?
Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Yasmin yang putus asa.
Tapi Burhan membimbing jiwa Yasmin yang sedang frustasi dengan sabar. Dia
merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana Yasmin musti belajar
huruf Braile. dengan sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah
yang dituju. dengan susah payah dan tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama
tongkatnya. Sementara Burhan berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia
menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan
mengantar dan menjemput Yasmin. Lengkap dengan seragam dinas security.
Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar;
pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin
selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yang harus
dijalaninya. dengan hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak
tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul
dengan musibah yang dialaminya. Seperti yang diramalkan Burhan, Yasmin histeris
mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan. "Saya buta,
tak bisa melihat!" teriak Yasmin. "Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu
telah benar-benar meninggalkan saya."
Burhan hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yang musti dilakukan. Mau
tak mau Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yang mandiri. Burhan tak
melepas begitu saja Yasmin. Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus. Dan
setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dengan
tongkatnya. Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di
manapun dia berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dengan
tenang Burhan pergi ke tempat dinas.
Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yang
begitu setia dan sabar membimbingnya. Memang tak mungkin bagi Burhan untuk terus
selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke
tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yang harus dilakoni.
Dan dia adalah wanita yang dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan
dan wanita yang tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Yasmin yang dulu, yang
tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.
Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya
belajar, dengan mengendarai bus kota sendirian. Suatu hari, ketika dia hendak turun
dari bus, sopir bus berkata, "saya sungguh iri padamu". Yasmin tidak yakin, kalau sopir
itu bicara padanya. "Anda bicara pada saya?"
"Ya", jawab sopir bus. "Saya benar-benar iri padamu". Yasmin kebingungan, heran dan
tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yang berjalan
terseok-seok dengan tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa
hidupnya, membuat orang lain merasa iri?
"Apa maksud anda?" Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu.
"Kamu tahu," jawab sopir bus, "Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki
muda dengan seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan. Dia memperhatikanmu
dengan harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu
menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu
telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan
ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita
beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu".
Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat orang tersebut,
dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia merasa begitu beruntung,
sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yang lebih berharga dari
penglihatan. Sebuah pemberian yang tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yang
membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.
Kita ibarat orang buta yang diperintahkan bekerja dan berusaha
Kita adalah orang buta yang diberi semangat untuk terus hidup dan bekerja
Kita tak bisa melihat Tuhan dan malaikat
Tapi Dia terus membimbing
Dia memompa semangat kita
Cemas dan khawatir dengan langkah kita
Dan tersenyum puas
Melihat kita berhasil melewati ujian-NYA


_> dari berbagai sumber

BERSIAP MENGHADAPI KEHILANGAN

Posted in
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan
rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya moratmarit.
Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang
mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya
sandang dan pangan. Anak anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering
marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Lakilaki
itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali
inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu.
Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. "Uh, hanya sebuah koin
kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa
koin itu ke sebuah bank. "Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,"
kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa
koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan
rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar
kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya
pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.
Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak
pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik
bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya
bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia
menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata lakilaki
itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang
sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya.
Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu.
Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang
mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong
gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200
dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250
dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan
beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh
sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok
keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si
lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang
terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi? Lelaki itu
mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang
kutemukan tadi pagi".
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang
bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar
kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita
sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang
berlebihan?

_>dari beberapa sumber

AKU HANYA INGIN SHOLAT

Posted in


Salim, nama anak itu. Rumahnya di dekat masjid. Hampir setiap hari ia selalu bermain di
halaman masjid yang memang lumayan luas. Sebenarnya umurnya jauh lebih tua dariku,
mungkin saat ini sudah menginjak 25 tahun, namun ia tidak tumbuh layaknya pemuda
normal. Kelainan mental yang dideritanya sejak bayi membuatnya masih seperti anak
kecil.
Malangnya, nama Salim sering dipakai ibu-ibu untuk menakuti anak-anaknya yang
bandel. Padahal sampai saat ini tak pernah ada seorangpun yang disakitinya. Setiap pagi
Salim membantu Jidan, pemuda penjaga masjid, untuk memunguti daun-daun yang gugur
di halaman, tak jarang pula ia ikut membuang sampah itu ketempat pembuangan di
samping masjid. Seperti dua orang sahabat, Jidan selalu bahagia dibantu olehnya, meski
tak banyak yang bisa ia kerjakan.
Ketika selesai dengan tugas mereka, Jidan menghidangkan teh panas dan beberapa
gorengan untuk sarapan mereka berdua. Tak ada kata malu, jijik atau apalah dalam hati
Jidan ketika sarapan bersamanya. Dengan tulus Jidan menyayanginya, tanpa melihat
keadaan fisik Salim. "Dia makhluk Allah, Wi. Dan bukan keinginannya untuk berada
dalam kondisi itu." katanya suatu hari ketika kutanya tentang sikapnya yang agak
"berbeda" dengan orang lain
Saat hari beranjak siang, Jidan bersiap-siap ke kampus, sementara Salim telah pulang
karena dipanggil ibunya untuk mandi. Selesai mandi, ia pun kembali datang ke masjid,
mendapati Jidan tidak ada, tampak kecewa dari raut wajahnya. Dan dia pun kembali
bermain dengan kesunyiannya di teras masjid.
Adakalanya dia diusir oleh jamaah, mereka tak ingin masjid kotor, karena Salim tidak
menggunakan sandal. Jika itu terjadi, Jidan pun memanggilnya agar ia masuk lewat
belakang saja.
"Aku heran, mengapa orang harus mengusir Salim dari teras masjid ini, toh dia hanya
duduk di situ, tidak menginjakkan kakinya ke masjid." katanya suatu hari padaku usai
seseorang mengusir Salim.
Jidan, mereka takut Salim masuk dengan kaki yang kotor." kataku.
"Wi, ini rumah Allah, setiap manusia berhak untuk memasukinya, tak peduli apakah itu
kita atau Salim, masjid ini takkan pernah kotor dihadapan Allah, karena dimasuki oleh
orang yang membersihkannya, tapi justru kan terkotori dengan sikap kita yang
mencemooh makhluk ciptaanNya, lagi pula kita tak pernah tau, apakah kita lebih baik
dihadapan Allah ketimbang Salim 'kan??? Mungkin kita malah jauh lebih hina." katanya
padaku.
Ya, aku rasa dia benar, mungkin dalam sebulan aku hanya sekali memunguti sampahsampah
di halaman masjid ini, ketika ada kerja bakti remaja masjid, tapi Salim....... Ya
Allah maafkanlah aku yang tak pernah menghargainya, maafkan aku Salim.
***
"Bunda, Wia pergi dulu ya!!!" kataku seraya mencium tangan bunda.
"Mau kemana, Wi?" tanya bunda.
Wia mau ke masjid, ada beberapa ketikan yang belum Wia selesaikan untuk Buletin
mmat." jawabku.
"Tapi pulangnya jangan terlalu malam ya, Wi." sahut bunda.
"Iya bunda, lagipula kan ada mas Raffi, nanti kita pulang bareng deh." kataku
engingatkan bunda kalau disana juga ada kakakku.
"Iya, tapi bilang juga sama mas mu, pulangnya jangan malam-malam, besokkan masih
arus kuliah." timpal bunda.
"Iya, bunda sayang, udah ya bunda, assalamu'alaikum." ucapku sambil ke luar rumah
menuju mesjid.
Wa'alaikumussalam." jawab bunda pelan.
***
"Uh, bahannya masih kurang akurat, nih." kataku seraya menyodorkan beberapa kertas
ulasan berita pada Fatimah.
"Apanya yang kurang akurat dek?" mas Raffi mulai sebel padaku, yang dari tadi sewot
dengan berita-berita yang ia sodorkan.
"Iya dong, masa' jumlah korban, dan kerugian yang diakibatkan penyerangan sepihak AS
terhadap Fallujah nggak ada." protesku.
Ya ampun dek, namanya juga nyari berita di internet, iya gitulah keadaannya......".
kakakku balas menjawab.
"Iya Wi, apalagi media penyiaran 'kan didominasi sama AS dan Yahudi, nggak bisa lagi,
yari yang bener-bener akurat, sekarang hanya gimana kita bisa menginformasikan apa
yang terjadi di Fallujah kepada jamaah di sini." timpal Jidan. "Iya deh, kalau emang gitu."
kataku menyerah, Fatimah dan beberapa teman redaktur lainnya hanya tersenyum
melihatku yang masih agak sewot. Akhwat yang satu ini emang terkenal tenang, nggak
seperti aku yang suka nyerocos.
"Yup, akhirnya selesai juga, tinggal diterbitkan dan semuanya beres." ujarku. Mas Raffi,
Jidan dan Fatimah senyum-senyum melihat tingkahku.
Dasar!!! paling cepet marahnya, eh paling cepet juga senengnya." ujar mas Raffi seraya
memencet hidungku.
"Biarin." jawabku sekenanya.
Udah yuk, kita pulang sekarang." ajak Fatimah.
"Iya, besok Wia ada ulangan, yuk mas." kutarik tangan mas Raffi keluar dari sekretariat
remaja masjid. Kami bersama-sama berjalan di teras masjid yang beberapa lampunya
telah dipadamkan oleh Jidan, ia pun ikut mengantar kami pulang sampai ke pintu depan.
"Eh, tumben ya! Udah malam begini masih ada yang shalat." ujar Yesi sambil menunjuk
ke dalam masjid.
"Mana, Yes?" ucapku.
Eh iya." sambung mas Raffi. Dalam keremangan cahaya kulihat sosok gempal sedang
berdiri tegak dengan tangan yang dilipat kedepan. Tapi Yesi benar, tumben ada orang
yang masih shalat malam-malam begini, kulirik jam tangan ku, 09.50 malam. Penasaran
kami memperhatikannya, apalagi gerakan shalatnya terlihat aneh dimataku, dan...???
Ow ow... semua terperangah, hanya Jidan yang tersenyum tipis.
Subhanallah... Itu kan Salim. Semua terpesona melihatnya. Ada getaran aneh yang
memasuki relung hati kami. Terlintas betapa egoisnya kami yang selama ini menganggap
ibadah dan Islam hanya milik orang yang sehat jasmani dan rohani. Malam ini telah
Allah tunjukkan bahwa Salim juga salah satu pemegang panji perjuangan Islam, paling
tidak dia salah seorang yang telah menegakkan tiang agama.
Tak terasa dia pun selesai dan kaget mendapati kami sedang memperhatikannya. Dia
tersenyum, mulai menggerakkan bibir dan tangannya, menunjuk ke arah tempat wudhu,
entah apa artinya.
"Katanya, kakiku tidak kotor, aku sudah mecucinya dan berwudhu, aku hanya ingin
shalat." ujar Jidan menterjemahkan. Dia mengangguk dan tersenyum.
"Iya, kamu boleh shalat kok, kapan aja." ujar Chika menahan haru.
Ya Allah... Aku menangis, terasa sesak dadaku mengingat keegoisanku dan semua orang
padanya. Bukankah dia hanya ingin shalat??? Dan bukankah dia juga bagian dari kita
disini???
Oh Salim, teruslah shalat, dan teruslah tegakkan tiang agama ini, karena orang yang
normal belum tentu melakukannya. Benar kata Jidan, kita belum tentu lebih baik darinya.
Malam itu kami semua pulang dengan berjuta perasaan, ada haru, ada malu, dan pasti ada
rasa syukur, karena Allah memberikan kami Salim yang senantiasa dapat memotivasi
kami untuk lebih baik dihadapan sang Khalik. Alhamdulillah...
Untuk saudara yang telah mengajarkanku betapa aku harus bersyukur.

TIDAK BU,BARANG ITU BUKAN MILIK SAYA

Posted in
Meli tak menyangka akan begini jadinya. Ia terus berlari dan berlari, menghindari
kerumunan dan amukan massa di sekitar Jakarta Barat. Dari kejauhan terlihat jilatan api
dari beberapa gedung dan sisa asap pembakaran mobil. Massa yang beringas 􀂲yang
entah datang dari mana􀂲 bersorak sorai. Kemudian terdengar suara-suara sumbang
penuh hasutan: “Cari Cina! Cari Cina!”
Beberapa mata mulai memandangnya. Meli bergidik. Beberapa mata mulai merasa
menemukan sasaran. Meli menatap ke depan. Lengang, tak ada satu kendaraan pun yang
bisa membawanya pergi dari tempat itu. Cemasnya menjadi-jadi. Apa yang harus
dilakukannya sekarang? Berlari sekuat-kuatnya? Masuk ke rumah penduduk? Mereka
telah menutup pintu rapat-rapat tanpa berani membukanya, setidaknya saat ini. Lalu?
Matanya mulai nanar.
Tiba-tiba di antara bayangan kepulan asap, tampak seorang lelaki tua lusuh dengan
sebuah sepeda kusam tua, menghampirinya. “Ibu Cina ,ya! Ibu mau kemana? Cepat naik
ke sepeda saya, bu! Cepat!!”
“Ojek sepeda ya…, pak?”
Bapak dengan baju tambalan di sana sini itu mengangguk pelan.
Tanpa berpikir panjang, Meli segera naik ke atas sepeda tersebut. Si Lelaki tua mengayuh
sepedanya kuat-kuat disertai peluh bercucuran yang membasahi bagian punggung
bajunya, meninggalkan massa yang berpesta dalam amukan dan beberapa pasang mata
liar yang urung mengejar mereka.
Sampai di belakang Glodok Plaza, Meli melihat banyak orang mengambil barang dari
dalam toko-toko di sekitar sana. Dengan wajah puas orang-orang itu mengangkuti
televisi, radio, komputer, kulkas sampai mesin cuci dan lain sebagainya. Meli tak
mengerti. Mungkinkah barang-barang itu diberikan oleh pemiliknya agar toko tersebut
tak dibakar? Atau massa yang menjarahnya? Beberapa tentara tampak berjaga-jaga,
namun tak melarang siapa pun yang ingin mengambil barang.
Di sudut yang sepi, Meli menyuruh bapak tua itu berhenti.
“Ada apa, bu?”
“Pak, mendingan bapak ikut ambil barang-barang itu dulu. Biar sepedanya saya yang
jagain. Itu orang-orang pada ngambil. Ambil dulu, pak!” ujar Meli. Hatinya tergetar
melihat kemiskinan dan perjuangan lelaki tua ini untuk menghidupi keluarganya. Ya, apa
salahnya ia menunggu sebentar dan menjaga sepeda ini sementara bapak itu mengangkuti
barang yang bisa dia bawa pulang.
Di luar dugaan, bapak tua itu menggeleng dan tersenyum getir. “Tidak, bu. Barang itu
bukan milik saya. Bukan barang halal. Saya muslim, bu.”
Meli tercengang beberapa saat. Benar-benar terenyuh. Orang tak mampu seperti ini,
ternyata punya prinsip hidup yang sangat mulia.
Saat sampai di tujuan, bapak itu hanya meminta ongkos tiga ribu rupiah, jumlah yang tak
berbeda dengan bila tak ada kerusuhan. Meli memberinya empat ribu, dan bapak tua itu
meninggalkannya dengan riang. “Terimakasih, bu.”
Meli menatap lelaki tua itu hingga menjadi titik di kejauhan. Ia telah mendapat satu
pelajaran yang luar biasa. Bukan dari siapa-siapa. Hanya dari seorang miskin, seorang
muslim, seorang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Dan dengan bangga, Meli
menceritakannya pada saya.

NIKMAT YANG TAK HABIS UNTUK DISYUKURI

Posted in
Tahukah Anda apa yang membanggakan saya dari seorang Kinan Nasanti?
Setiap orang merasa aman mempercayakan rahasia mereka padanya! Begitu banyak
teman (bahkan yang baru mengenalnya) menjadikannya tempat curhat.
“Saya sudah cerita semua masalah saya pada Kinan, Mbak,” kata Vita.
“Aku ceritakan saja semua pada Mbak Kinan,” tutur Dian.
“Aku sampai nangis lho curhat ke Kinan,” kali ini Wida.
“Mbak Kinan, aku mau ceritaaaa….”
“Nan, ada waktu nggak untuk dengar ceritaku?” tanya Ika.
Dan apa yang dilakukan Kinan?
Ia mendengar dengan telinga dan hati sekaligus. Ia tidak semata menunjukkan simpati,
tapi empati. Ia berusaha mencari solusi atau memberi nasehat yang berarti. Lebih dari itu,
komitmen. “Insya Allah kita hadapi bersama, ya. Saya akan bantu. Semoga Allah
memberi kekuatan.”
Tapi tahukah Anda siapa Kinan sebenarnya? Ia hanya seorang muslimah biasa dengan
tubuh yang sangat mungil (serupa anak saya yang menjelang kelas II SD). Hari-harinya
adalah cobaan. Ayahnya sudah meninggal. Sang ibu sakit-sakitan. Ia masih harus
menghadapi seorang kakak yang tidak stabil secara mental serta seorang adik yang sakit
jiwa! Belum lagi masalah lainnya. Dan ia menghadapi semua dengan ketabahan luar
biasa.
Bagaimana bisa? Pikir saya.
“Allah, Mbak. Allah tempat bersandar yang sejati. Ia pasti tak akan membiarkan
hambaNya. Ia tak akan membiarkan saya, Mbak,” katanya suatu ketika.
Di tengah dera cobaan, ia bisa lulus kuliah dari Universitas Indonesia dengan nilai baik.
Ia mengajar di sebuah pesantren dan dicintai begitu banyak muridnya. Ia masih sempat
bekerja di sebuah penerbitan, menulis untuk beberapa majalah dan antologi cerpen
bersama, membina majelis taklim, menjadi pengurus organisasi Forum Lingkar Pena dan
aktif dalam berbagai kegiatan Partai Keadilan di wilayahnya.
Tidak hanya itu. Hari-hari belakangan ini ia sibuk memikirkan teman-temannya yang
belum menikah pada usia menjelang atau lebih dari 30 tahun. Dan mencoba mencarikan
untuk mereka lelaki muslim yang baik.
Tidak memikirkan diri sendiri. Tidak rendah diri karena tubuh mungilnya. Hanya
kerendahan hati. Tak ada duka karena derita. Hanya mata yang berbinar dan senyum, saat
bertemu kami.
Tahukah Anda kalimat yang sering ia ucapkan kala bersama kami?
“Maha Besar Allah yang memberi saya kenikmatan yang tak habis untuk disyukuri.”

DOA YANG SELALU DIKABULKAN

Posted in


Pagi itu, 3 Mei 1998, dari Jakarta, saya diundang mengisi seminar di IAIN Sunan
Gunung Djati, Bandung. Saya duduk di bangku kedua dari depan sambil menunggu
kedatangan pembicara lain, Mimin Aminah, yang belum saya kenal. Jam sembilan tepat,
panitia menghampiri saya dan memperkenalkan ia yang baru saja tiba. Saya segera
berdiri menyambut senyumnya yang lebih dulu merekah. Ia seorang yang bertubuh besar,
ramah, dalam balutan gamis biru dan jilbab putih yang cukup panjang. Kami berjabat
tangan erat, dan saat itu tegas dalam pandangan saya dua kruk (tongkat penyangga yang
dikenakannya) serta sepasang kaki lemah dan kecil yang ditutupi kaos kaki putih. Sesaat
batin saya hening, lalu melafazkan kalimat takbir dan tasbih.
Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya bahagia karena para
peserta tampak antusias. Begitu juga ketika giliran Mimin tiba. Semua memperhatikan
de-ngan seksama apa yang disampaikannya. Kata-kata yang dikemukakannya indah
dengan retorika yang menarik. Wawasannya luas, pengamatannya akurat.
Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkata dengan
nada datar. “Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidup saya.”
Ia tersenyum. “Saya lahir dalam keadaan seperti ini. Mungkin banyak orang akan pesimis
menghadapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telah memohon sesuatu pada
Allah. Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya, tak ada yang diingat dan disebutnya
kecuali Allah,” Ia terdiam sesaat dan kembali tersenyum. “Ya, agar mereka ingat Allah
saat menatap saya. Itu saja.”
Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. “Saya kuliah di Fakultas
Psikologi,” katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman pria dan wanita di
Universitas Islam Bandung—tempat kuliahnya itu—senantiasa bergantian membantunya
menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai dua atau tiga. Bahkan mereka hafal jam
datang serta jam mata kuliah yang diikutinya. “Di antara mereka ada yang membawakan
sebelah tongkat saya, ada yang memapah, ada juga yang menunggu di atas,” kenangnya.
Dan civitas academica yang lain? Menurut Mimin ia sering mendengar orang menyebutnyebut
nama Allah saat menatapnya. “Mereka berkata: Ya Allah, bisa juga ya dia
kuliah,” senyumnya mengembang lagi. “Saya bahagia karena mereka menyebut nama
Allah. Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah, keluarga, kerabat atau teman
kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar. Begitu kata mereka.”
Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah bermimpi
akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya. “Kita tahu, terkadang orang normal pun
susah mendapatkan jodoh…, apalagi seorang yang cacat seperti saya. Ya tawakal saja.”
Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan
normal melamarnya. “Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyak orang menyebutnyebut
nama Allah dengan takjub. Allah itu maha kuasa, ya. Maha adil! Masya Allah,
Alhamdulillah, dan sebagainya,” ujarnya penuh syukur.
Saya memandang Mimin dalam. Menyelami batinnya dengan mata mengembun.“Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yang tak
mengenal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah. Ketika saya
hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter
untuk operasi. Bagaimana pun saat seorang ibu melahirkan otot-otot panggul dan kaki
sangat berperan. Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah
berkehendak semua akan menjadi mudah. Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar
dibantu bidan,” pipi Mimin memerah kembali. “Semua orang melihat saya dan mereka
mengingat Allah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang.”
Hening. Ia terdiam agak lama.
Mata saya basah, menyelami batin Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat
dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergap seluruh keberadaan
saya. Saya belum apa-apa. Yang selama ini telah saya lakukan bukanlah apa-apa.
Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduk sebagai
pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, saya menahan airmata di
atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saat memandang saya, seperti saat mereka
memandang Mimin?
Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan saya masih kabur.
Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur ke pelukannya. Wajah teduh Mimin
tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya berusaha membelai kepala si
anak. Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya
suka. Ya, Allah betapa banyak kenikmatan yang Kau berikan padaku.
Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapa dia mencintai
saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh rongga jiwa saya.
“Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberi pelajaran pada saya
dari pertemukan dengan hambaMu ini. Kekalkanlah persaudaraan kami di Sabilillah.
Selamanya. Amin.”
Mimin benar. Memandangnya, saya pun ingat padaNya. Dan cinta saya pada Sang
Pencipta, yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal.

ALLOH SIAPKAN AKU BILA ENGKAU INGIN BERTEMU

Posted in


Pernahkah Anda melihat seseorang menjelang sakaratul maut? Berapakali Anda melihat
mereka yang terbelalak ketakutan, yang kesakitan atau yang hanya seperti hendak tidur?
Aku punya seorang teman dekat di SMU I Binjai bernama Wati. Ia dara berjilbab yang
sangat cantik, supel, berbudi, senang menolong orang lain dan selalu menjadi juara kelas.
Maka seperti mendengat petir disiang hari, saat kudengar ia yang sudah sekian lama tak
masuk sekolah ternyata mengidap kanker rahim. Bahkan sudah menyebar hingga stadium
empat!!
Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah motor segala kegiatan
dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai
siapapun. Sungguh, kami tak memiliki Wati yang lain. Maka betapa pedih menatapnya
hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang. Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi.
Setelah sakit berbulan-bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami!
"Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun," kata ibunya sambil mengusap air matanya.
Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan Wati berusaha
untuk bangun. Kami semua tercengang saat ia berdiri dan berjalan melintasi kami seraya
berkata dengan suara nyaris tak terdengar, "Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha."
Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah itu ibunya
memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali membaringkannya di
tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat sambil berdiri. Hening. Tak seorang pun
yang bersuara saat ia melakukan shalat Dhuha. Selesai shalat, saat ibunya akan
membukakan mukena, ia melarang dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah
ibu, ayah dan adik-adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus
terdengar asma Allah. Kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan tangis.
Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan penuh sayang.
Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya bergantian. Kini kulihat
butiran bening menetes dari sudut matanya. Lalu susah payah ia mengangkat kedua
tangannya dan mendekapkannya di dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya
sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat lancar. Innalillaahi wa inna
ilaihi rooji'uun. Ia telah pergi untuk selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua.
Dadaku berdebar, lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat
sempurna dalam usia yang baru 18 tahun. Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku
mencium wewangian. Tubuhku bergidik. Aku menangis terisak-isak.
Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu?

BERAWAL DARI JILBAB

Posted in


Sore itu, Anti mendapatkan satu pesan singkat dari nomor yang asing baginya. Isinya
cukup membuat dirinya menjadi sedikit penasaran. Namun tak lama kemudian Anti baru
sadar. Ya, beberapa jam yang lalu setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia
memanfaatkan waktu yang tersisa untuk chatting. Namun chatting kali ini beda, Anti
chatting di situs yang berlatar belakang Islam.
Dunia yang baru ia dalami setelah beberapa bulan terakhir ini ia memakai jilbab.
Kebetulan waktu itu Anti hanya chat berdua saja. Di awal perbincangan mereka saling
memperkenalkan nama asli masing masing. Tak lama kemudian teman chat Anti
menyebutkan nama aslinya. “Oohh. Namanya Rizal“ bisik Anti. Anti pun menyebutkan
nama aslinya. Sebentar mereka ngobrol, namun Rizal langsung minta nomor telpon Anti.
Tanpa pikir panjang, Anti memberikannya. Ya, maklumlah Anti adalah orang yang
mudah bergaul dan senang bila mempunyai banyak teman. Apalagi temannya yang satu
ini sepertinya mengerti banyak hal tentang Islam. Dengan begitu Anti bisa belajar banyak
dari Rizal yang Insya ALLAH mau membimbing Anti menapaki dunia yang begitu
indah..dunia Islam. Tapi sayang Anti tidak mendapatkan nomor telpon Rizal. Tiba tiba ia
menghilang entah ditelan apa. Namun pesan singkat yang baru ia terima tidak
menyebutkan nama. Anti hanya bisa menebak nebak dalam hati. Waktu itu bulan
Ramadhan, ketika sahur tiba tiba hp Anti berdering.
“Ah..nomor itu lagi “ gumamnya. Namun ia tetap menjawabnya dengan harapan rasa
penasarannya selama ini tertuntaskan. “Hallo.. Assalamu’alaikum..” sambut Anti.
“Wa’alaikumsalam… hayoo, udah sahur belum ???“ kata orang misterius itu.
Orang itu memutuskan hubungan telponnya. Lagi…lagi.. rasa penasaran Anti semakin
menjadi jadi. Ya maklumlah Anti tidak suka dengan kemisteriusan. Hilang sudah
kesabaran Anti, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim SMS kepada orang itu dengan
maksud menanyakan siapa dia sebenarnya. Sebelumnya Anti sudah menduga kalau orang
itu adalah Rizal. Ternyata dugaan Anti benar.
Dia adalah Rizal, sebuah nama yang baru beberapa hari ini ia kenal. Setelah hari itu,
SMS-an pun berlanjut. Kali ini pesan singkat yang dikirim Rizal untuk Anti masih biasa
biasa saja hanya menanyakan kabar Anti dan tidak ada yang istimewa. Hingga pada suatu
malam Rizal kembali menelpon Anti. Di sanalah mereka melanjutkan perkenalan dan
pertanyaan yang selama ini tertunda. Suara Rizal terdenganr begitu dewasa. Kata kata
yang terucap begitu bermakna.
Dari beberapa pertanyaan yang diajukan Rizal, ada satu pertanyaan yang membuat Anti
terperangah. Yaitu tentang jilbab. Suatu benda yang baru beberapa bulan terakhir ini
menutupi rambutnya yang indah itu. “Anti, sebelumnya aku minta maaf kalau
pertanyaanku ini agak lancang. Hmm… apakah kamu berjilbab ?” tanya Rizal dengan
nada hati hati.
“Alhamdulillah, beberapa bulan ini aku memang sudah memakainya. Tapi aku juga
masih perlu bimbingan. Banyak hal yang belum aku ketahui tentang Islam.” jawab Anti.“Syukurlah… jangan khawatir insya ALLAH aku akan membantu kamu, ya.. kita sama
sama masih belajar kok…” sambut Rizal dengan semangat. Dalam hati Anti, Rizal sudah
mendapatkan suatu tempat.
Akhirnya Anti sudah mendapatkan orang yang selama ini ia cari. Orang yang akan
membimbingnya menapaki Islam. Tanpa Anti minta, Rizal sudah bersedia membantunya.
Namun pertanyaan Rizal tentang jilbab tidak hanya sampai di situ. Ia menanyakan alasan
Anti memakai jilbab.
“Kalau boleh aku tahu, apa alasan yang membuat kamu memutuskan untuk berjilbab?.”
Tanya Rizal. “Hhmm… aku memakai jilbab tentunya karena ini memang suatu
kewajiban yang terlambat aku sadari…tapi disamping itu ada suatu alasan yang
mendorongku untuk berjilbab. Aku melihat sahabatku menikah, ia seorang akhwat yang
begitu menjaga kehormatan dirinya dengan berjilbab sampai akhirnya ada seseorang yang
datang melamarnya.” jawab Anti malu malu.
Pertanyaan Rizal tentang jilbab, membuat Anti bertanya balik “Hhhmm… kalau boleh
aku tahu, kenapa sih kamu menanyakan aku sudah berjilbab atau belum? Memangnya
ada apa dengan jilbab?” tanya Anti polos.
Ditanya Anti seperti itu, Rizal sebenarnya punya kesempatan untuk mengutarakan
keinginan hatinya. “Tidak ada yang salah dengan jilbab. Dan alasan kamu untuk
berjilbab, aku pikir wajar saja dan itu hak kamu. Aku malah ingin punya istri yang
berjilbab. Wanita akan tampak lebih cantik dan anggun dengan jilbab di kepalanya. Akan
terjagalah kehormatan wanita itu. Itulah alasanku menanyakan itu ke kamu” jawabnya
panjang. Hati Anti sedikit berdebar mendengar pernyataan Rizal. Namun entahlah niat
apa yang tersembunyi di balik pertanyaan pertanyaan itu.
Dari obrolan panjang itu, Anti baru mengetahui kalau ternyata Rizal juga kuliah sambil
bekerja sama seperti dirinya. Rizal kuliah di salah satu PTS di Jakarta jurusan Teknik
Elektro. Tebakan Anti tentang Rizal hampir semua benar. Namun untuk yang satu ini,
Anti salah. Anti mengira usia Rizal diatas dirinya.
Ternyata usia Rizal di bawah Anti dua tahun. Namun meski demikian, tidak memutuskan
tali persahabatan yang sedang dirajutnya bersama Rizal. Bahkan setelah Anti tahu kalau
Rizal dipanggil Abang oleh adiknya, ia jadi ikut ikutan memanggilnya Abang --sapaan
yang seharusnya ditujukan untuk orang yang usianya lebih tua, namun tidak begitu
dengan Anti.
Menurut Anti, walaupun dari segi usia ia lebih muda darinya namun cara berpikir dan
berbicara Rizal sangatlah dewasa. Wawasannya begitu luas, mungkin karena ia suka
membaca buku. Sama seperti Anti yang juga suka membaca buku. Hanya bedanya, kalau
Anti lebih suka baca novel, puisi, atau cerpen apalagi yang bertemakan islami. Mungkin
karena pembawaan sifatnya yang agak melankolis. Sedangkan Rizal, ia suka baca buku
apa saja yang menurutnya bagus untuk ia baca.
Untuk kali pertama obrolan mereka lewat telepon berakhir sampai di situ. Obrolan yang
cukup panjang, Anti jadi lebih mengenal Rizal. Setelah hari itu, hari hari Anti jadi lebih
indah. Pesan singkat yang Rizal kirim untuk Anti, membuatnya semakin dekat bukan
hanya pada Rizal tetapi juga pada Penciptanya.
Bagaimana tidak pesan singkat yang selalu mengingatkan Anti bukan hanya pada
pengirimnya, perlahan lahan membuat Anti berubah. Ia jadi semakin rajin shalat. Tidak
hanya shalat lima waktu saja yang selama ini memang ia rasakan masih suka bolong
bolong, tetapi juga shalat sunah pada malam hari bahkan ia mulai belajar mengaji.
Ajaib… sungguh ajaib, begitu cepat Anti berubah. Padahal Anti belum pernah melihat
Rizal. Entahlah Anti sendiri bingung melihat perubahan yang dialaminya. Dalam
kegelisahannya, ia hanya bisa berdoa kepada ALLAH agar diberikan petunjuk oleh-Nya.
Ya Rabb…. Engkaulah Maha pemilik hati manusia Engkaulah Maha pembolak balik hati
manusia Hanya pada-Mu lah hamba serahkan ini semua Jika Engkau mengizinkan
Temukanlah hamba dengan seseorang yang juga berjalan menuju arah-Mu Yang bisa
mengingatkan hamba akan diri-Mu Yang bisa membukakan hati dan mata hamba akan
kebesaran-Mu Yang bisa membimbing hamba berjalan menuju surga-Mu Semoga
Engkau berkenan Ya Allah…Amiiiin…. Doa itulah yang selalu ia panjatkan disetiap
akhir shalatnya.
Hari yang dinAnti telah tiba. Hari Raya Idul Fitri.
Seperti biasa kita saling bermaaf maafan. Begitu juga dengan Anti dan Rizal, mereka tak
lupa saling meminta maaf yang diwakili dengan pesan singkat ucapan selamat dan
permintaan maaf dari keduanya. Hari lebaran mereka lewati dengan kesibukan masing
masing, maklum keluarga Rizal adalah keluarga besar jadi dua hari pertama lebaran
dilewatinya bersama keluarga dirumah. Hingga pada suatu hari, Rizal mengajak Anti
untuk bertemu di suatu tempat yaitu di toko buku, tempat yang paling mereka sukai.
Sebenarnya Anti takut kalau Rizal mengajaknya bertemu. Anti takut setelah ia bertemu
dengan Rizal, Rizal akan berubah sikapnya pada Anti.
Kekhawatiran Anti cukup dapat dimengerti, ia khawatir akan kehilangan Rizal
pembimbingnya selama ini. Namun akhirnya Anti menyanggupi ajakan Rizal. Anti
menyerahkan itu semua pada-Nya, Dialah yang berkuasa atas segala hal.
Untuk kali pertamanya mereka bertemu. Setibanya Anti di toko buku itu, ternyata Rizal
sudah sampai lebih dulu. Tiba tiba hp Anti berdering, ternyata Rizal menghubungi Anti. “
Assalamu’alaikum,.. Anti kamu dimana???” terdengar suara Rizal “ Wa’alaikumsalam,
aku udah di depan nih..” jawab Anti “Oh, ya udah aku ke depan deh…, Hhhmm.. kamu
pake baju apa ya???” tanya Rizal lagi “Aku pakai baju coklat muda dan jilbab coklat
motif kembang kembang..” Anti menjelaskan. Setelah mendengar penjelasan dari Anti,
Rizal langsung memutuskan telponnya. Anti hanya bisa menunggu Rizal.
Tidak lama kemudian Hp Anti berdering lagi, Rizal menelpon lagi memastikan kalau
yang ia lihat itu adalah Anti. “Anti… kalau aku tidak salah, aku dibelakang kamu” kata
Rizal Rizal langsung memutuskan telponnya. Anti dengan hati yang berdebar debar
menoleh kebelakang. Subhanallah, diam diam hati Anti berdzikir untuk menghilangkan
rasa gugupnya. Rizal yang Anti lihat saat itu, sama sekali tidak mencerminkan seorangpria berusia 20 tahun. Ia tampak begitu dewasa dan berwibawa dengan dandanan seperti
itu ditambah lagi dengan kacamata yang bertengger dimatanya.
Rizal menyambut Anti dengan senyuman. Anti pun membalas senyuman Rizal dengan
malu malu sambil menundukkan pandangan. Mereka berdua berjalan seiring dengan tetap
menjaga jarak. Tanpa Anti sadari, ternyata warna baju yang mereka pakai sama. Coklat
muda. “ Eh, kita ngga janjian khan pake bajunya???? “ kata Rizal. Anti hanya tersenyum
malu. “Kok bisa ya…” begitu bisik hatinya.
Tak banyak kata yang mengalir dari perbincangan mereka berdua. Untuk beberapa saat
mereka berpisah. Rizal menuju rak buku Islam sedangkan Anti menuju rak novel
kesukaannya. Anti mengira ngira apa yang Rizal pikirkan tentang dirinya. Cukup lama
mereka berpisah. Akhirnya mereka bertemu lagi setelah mendapatkan buku yang mereka
cari. Rizal meminta buku yang Anti pilih. Ia bermaksud membelikannya untuk Anti
sebagai hadiah pertemuan. Dan Anti tidak bisa menolaknya.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 16.00, Rizal mengajak Anti untuk shalat Ashar.
Setelah selesai shalat Ashar, mereka berdua pulang. Karena mereka searah jadi pulang
bersama sampai di simpangan Pal, mereka berpisah karena arah mereka bertolak
belakang. Tak lupa Rizal mengucapkan terima kasih pada Anti karena mau menemaninya
ke toko buku. Sepanjang perjalanan pulang, Anti tersenyum dalam hati. Begitu
bahagianya ia dipertemukan dengan Rizal. Rizal begitu menjaga keislamannya. Dan Anti
merasa aman dan bahagia di dekatnya.
Namun Anti menyerahkan ini semua pada-Nya, biarlah Dia yang memutuskan. Masih
asyik dengan lamunannya, tiba tiba hp Anti berdering. Ternyata hanya SMS. Ya, Rizal
mengirim SMS pada Anti. Kali ini, isinya cukup membuat Anti terkejut. “ \Ass, sudah
sampai mana??, hati hati ya dindaku sayang…” begitu isinya. Membacanya, membuat
Anti tersenyum. Rizal memanggil Anti dengan sebutan dinda. Sebutan untuk seorang
kekasih. Ya Rabb..lindungilah hamba-Mu ini, Berilah hamba petunjuk…, Begitulah doa
nya dalam hati. Anti tidak langsung membalas SMS dari Rizal. Sesampainya Anti
dirumah, pas waktu shalat maghrib tiba. Anti istirahat sejenak untuk melepaskan lelah.
Hp Anti berdering lagi, seperti biasa Rizal selalu mengingatkan Anti untuk shalat.
Untuk kali keduanya, Rizal memanggil Anti dinda.. “Ass, udah shalat maghrib belum??,
jangan lupa untuk menyelipkan namaku di sela sela do’amu dindaku sayang… Rizal” Isi
pesan singkat itu. Setelah selesai membaca pesan singkat yang indah itu, Anti bergegas
shalat maghrib. Anti tidak lupa pesan Rizal untuk menyelipkan namanya disetiap do’a
Anti. Tanpa diminta pun Anti selalu menyebutkan nama Rizal di setiap doanya.
Entahlah Anti belum juga ingin membalasnya. Mungkin ia masih terhanyut dalam rasa
bahagianya. Sampai sampai ia bingung harus bilang apa untuk membalasnya. Seperti
biasa Anti selalu memanfaatkan waktu sepertiga malamnya untuk berdoa. Ia ingin
mengungkapkan segala perasaan yang dialaminya, kebingungan dan kegundahan yang
melanda hatinya pada Penciptanya.
Perjalanan kisah mereka tidak selalu berjalan mulus. Keesokan harinya Anti terkena
musibah. Ia mengalami kecopetan di sebuah angkutan ketika pulang kuliah yang
mengakibatkan Hp nya raib. Anti bingung karena nomor Rizal belum sempat ia hafal.
Anti memang paling tidak suka kalau disuruh menghafal nomor telepon. Sesampainya
Anti dirumah, ia langsung menuju pesawat telpon. Anti hanya ingat kepalanya saja 0855
selebihnya ia mencoba menekan secara acak meskipun sebenarnya ia tidak yakin
berhasil.
Dan ternyata memang tidak berhasil. Anti kehilangan Rizal, ia kehilangan pengingat
shalatnya, pembimbing dirinya. Ia kehilangan pesan singkat yang indah itu yang belum
sempat ia balas. Entahlah apa yang ada di pikiran Rizal saat ini, mungkin ia akan mencap
Anti sebagai wanita yang angkuh dan sombong karena sampai saat ini SMS darinya
belum juga dibalas. Ya Allah.. seandainya Rizal tahu apa yang sedang Anti alami
sekarang…Begitulah doanya dalam hati. Hampir tiga bulan mereka kehilangan kontak.
Hingga pada suatu hari, Anti begitu ingin pergi ke toko buku tempat dulu mereka untuk
kali pertama bertemu. Namun kali ini bukan itu niat Anti. Memang nama Rizal masih
tersimpan baik baik didalam hatinya.
Entahlah sepertinya ada sesuatu yang mendorong Anti untuk melangkah pergi ke tempat
itu. Sesampainya di tempat itu, seperti biasa Anti langsung menuju rak novel. Anti
teringat pertemuan empat bulan yang lalu dengan Rizal. Namun ia berusaha untuk tidak
larut dalam kesedihannya. Kesedihan kehilangan Rizal.
Terlalu asyiknya ia berjalan menuju kasir sambil membaca, ia menabrak seorang pria
berkacamata yang juga sedang membaca. Buku mereka berjatuhan. Anti yang merasa
bersalah berinisiatif meminta maaf lebih dulu sambil mengambilkan buku milik orang itu.
Belum sempat Anti melihat wajah orang itu, namun pria berkacamata itu memanggil
namanya. “Anti…..??” kata orang itu dengan penuh tanda tanya. Kontan saja Anti
terkejut, karena sepengetahuannya ia belum pernah menyebut namanya. Perlahan Anti
menegakkan pandangan, matanya tepat menuju mata pria berkacamata itu.
Wajah yang ada di hadapannya, begitu jelas tergambar dalam ingatan Anti. Ya.. wajah itu
mengingatkan Anti pada seseorang. Lama juga mereka saling menatap. Hingga tanpa
sadar Anti menyebutkan sebuah nama. “Rizal……?????” sebut Anti. Tak lama kemudian
mereka tersadar dari lamunannya masing masing. Anti langsung kembali menundukkan
pandangannya malu malu. Diam diam hartinya berdzikir, Astagfirullah… Ya Rabb,
ampuni hamba-Mu ini yang telah melakukan dosa. Ya.. Rabb Engkau mempertemukan
kembali hamba dengan dia.. Ini adalah kehendak-Mu Ya Allah. Rizal memulai
percakapan diantara mereka.
“Anti.. apa kabar, kemana saja kamu??? SMS dari ku tak pernah kau balas?? Apa kamu
marah padaku???” tanya Rizal dengan nada penasaran. Anti sudah menduga, kalau Rizal
berpikir seperti itu tentang dirinya. Dan menanyakan tentang SMS yang tak pernnah
dibalasnya itu. Dengan perlahan lahan Anti menjawab semua pertanyaan Rizal dan
menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya waktu itu.
“Abang ri, alhamdulillah kabarku baik. Bukan maksudku tidak mau membalas SMS dari
abang, hanya saja belum sempat aku membalas dan menghafal nomor hp abang ri, hpku
hilang dicopet. Aku sudah berusaha mengingatnya, sayangnya aku hanya ingat kepalanya
saja 0855. Begitu ceritanya. Anti pikir, Anti telah kehilangan Abang ri ” jawab Anti“Innalillahi… tapi kamu ngga apa apa khan ??? “ Tanya Rizal penuh kekhawatiran.
“Alhamdulillah, aku ngga apa apa… Mungkin ini ujian dari-Nya “ Anti menjelaskan.
“Syukurlah…Dan ternyata Allah telah mempertemukan kita lagi ditempat yang sama…,
meskipun tanpa komunikasi tanpa janjian terlebih dahulu” kata Rizal dengan semangat.
Untuk kali keduanya Rizal menghadiahkan buku itu untuk Anti, kali ini dengan alasan
sebagai hadiah untuk dindaku sayang… katanya. Untuk kali keduanya juga Anti tidak
bisa menolak pemberian dari Rizal.
Anti menerimanya dengan malu malu. Setelah acara ditoko buku selesai, Rizal mengajak
Anti makan di sebuah resto yang ada di dalam kompleks toko buku itu. Sambil makan
Rizal menanyakan suatu hal yang pribadi pada Anti. Rizal menanyakan tentang tipe calon
suami yang Anti cari. Entahlah mengapa tiba tiba ia menanyakan itu pada Anti. Anti tetap
menjawab sejujurnya tanpa ada prasangka apa apa pada Rizal. “Tipe suami yang aku cari
adalah yang bisa membimbingku menuju jalan-Nya, yang bisa membawaku menuju
surga-Nya, yang bisa menjadi imam baik dalam shalatku maupun dalam kehidupan
berumah tangga nantinya, yang mampu bertanggung jawab dunia dan akhirat.
Hhhmmm… pokoknya yang sholeh ” jawab Anti dengan semangat.
Merasa dirinya terlalu banyak bicara, Anti langsung meminta maaf. “Aduhh…maaf ya
kalau bicaraku terlalu banyak. Mungkin aku agak berlebihan..” kata Anti.
Rizal tidak berpikir seperti itu, malah ia senang mendengar Anti berbicara. “Oh.. ngga
kok, malah aku senang mendengar kalau kamu bicara, lucu kayak nenek nenek..” ledek
Rizal pada Anti. Diledek Rizal seperti itu, Anti langsung merubah mimik mukanya.
Melihat perubahan mimik muka Anti, Rizal langsung minta maaf khawatir Anti marah.
“Uupss.. maaf deh becanda kok, jangan marah ya dindaku…, Ngga kok, aku pikir wajar
wajar saja kalau seseorang itu memiliki sebuah impian sebuah harapan.
Namun masalahnya tidak ada manusia yang diciptakan sempurna. Sebaik-baiknya
manusia, pasti ia pernah melakukan kesalahan. Apa kamu mau menerima segala
kekuarangan dan kelebihan yang ada pada dirinya” kata Rizal serius. Anti tidak mau
kalah. “Tentu saja, aku akan terima dia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dia
punya. Dan Insya Allah, aku akan setia mendampinginya dalam suka dan duka. Aku akan
tetap menyayanginya” jawab Anti.
Rizal begitu serius memperhatikan cara Anti mengungkapkan pendapatnya. Mungkin
dalam hati Rizal tertawa geli. Karena Anti kalau sudah bicara serius, tanpa ia sadari, kata
kata puitisnya keluar. Ya..maklumlah Anti itu pemilik sifat melankolis. Dan Rizal tahu
itu. Kerap juga ia meledek Anti. Setelah selesai makan, Rizal mengajak Anti shalat
Maghrib karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.15. Kali ini Rizal mengajaknya
shalat berjama’ah meskipun dengan menggunakan hijab. Anti kaget sekaligus senang,
Rizal menjadi imam dan Anti menjadi ma’mum.
Karena moment itulah yang selalu ia tunggu tunggu. Memang kebetulan di mushalla itu
baru mereka berdua yang shalat. Selesai berdo’a, tanpa Anti duga Rizal mengungkapkan
perasaannya pada Anti. Dengan selembar kain sebagai hijab diantara mereka berdua,
Rizal mengutarakan keinginannya untuk melamar Anti. Di keheningan suasana, suara
Rizal terdengar begitu indah dibalik hijab yang memisahkan mereka berdua. Anti
mendengarkan dengan penuh cemas.
“Assalamu’alaikum, dinda…abang ri mau bilang sesuatu. Tapi dinda jangan marah
ya….” Begitu katanya.
“Wa’alaikumsalam, bilang apa abang ri, bilang aja Insya Allah Anti ngga marah” suara
Anti terdengar lembut di balik hijab.
“Sungguh maha suci Allah yang telah menganugerahkan rasa cinta kepada manusia. Rasa
cinta itu begitu suci dan murni. Tidak sepantasnya kita menodainya. Kehadiran rasa cinta
itu di dalam hati abang ri, membuat abang ri bingung dan takut. Abang ri takut rasa cinta
itu ternoda. Oleh karena itu abang ri akan membawa cinta ini ke jalan yang di ridhoi-Nya.
Sejak pertama kita bertemu dan kali ini atas kehendak Allah kita dipertemukan kembali,
sebenarnya abang ri mempunyai perasaan lebih pada dinda.
Alhamdulillah abang ri sudah minta petunjuk-Nya. Dan semua itu mengarah pada dirimu
dinda. Setelah proses perkenalan yang kita lalui bersama, abang ri berniat melamar dinda.
Sekarang terserah pada diri dinda… Dinda boleh shalat istikharah lebih dulu mohon
petunjuk-Nya. Apapun itu keputusannya, abang ri akan terima dengan ikhlas.
Sekarang sudah malam sebaiknya kita pulang yuk.., nanti dinda dicariin sama orang
rumah” kata Rizal perlahan namun pasti.
Anti benar benar terkejut. Tanpa ia sadari, air mata menetes di pipi Anti. Anti menangis
karena bahagia. Setelah itu Anti tidak mampu berkata kata lagi. Ia hanya menangis. Rizal
yang melihat Anti menangis khawatir. Ia khawatir kalau ada kata kata yang menyakiti
hati dindanya. “Dinda.. kenapa kamu menangis, maafkan aku kalau ada kata kataku yang
menyakiti hatimu” tanya Rizal dengan penuh kekhawatiran.
Mendengar Rizal berkata seperti itu, Anti langsung menjelaskan alasan ia menangis.
“Abang ri, Anti menangis bukan karena ada kata kata abang ri yang menyakiti hati Anti.
Anti menangis karena bahagia, doa-doa yang selalu Anti panjatkan disetiap shalat Anti
akhirnya dikabulkan oleh-Nya. Anti bahagia karena akhirnya Allah telah mengirimkan
seseorang untuk menjadi pendamping hidup Anti dan itu adalah Abang ri. Dan Anti
menangis karena ingat Almarhumah ibu.
Seandainya beliau masih ada, pasti ikut merasakan kebahagiaan yang Anti rasakan
sekarang. Ya Rabb.. terimalah ia disisi-Mu” kata Anti sambil terisak menangis.
Mendengar Anti berdo’a, Rizal mengamiinkan. “Amiiinn…., Ya sudah sekarang kita
pulang yuk, hari sudah malam” ajak Rizal.
Anti menolak diantar pulang oleh Rizal. Karena rumah mereka sama jauh dan Anti tidak
mau merepotkan abangnya. Sebelum mereka berpisah tidak lupa Rizal menanyakan
nomor telpon rumah Anti dan alamat e-mailnya agar bisa tetap berkomunikasi.
Sesampainya dirumah, kira kira pukul 20.30 Rizal telpon untuk memastikan kalau Anti
sudah sampai dirumah dengan selamat. Keesokan harinya ditempat ia bekerja, Anti
mengecek e-mail yang masuk dan ternyata ada e-mail dari Rizal. Isinya tentang rencanakedatangan dirinya bersama keluarga untuk silahtuhrahmi tiga bulan lagi.
Tiga bulan sudah Anti lalui dengan harap harap cemas.
Hingga tiba hari itu, keluarga Rizal datang. Dari perbincangan antara orang tua kedua
belah pihak, akhirnya di putuskan hari pernikahan mereka yang insya Allah akan
diadakan sekitar tiga bulan lagi. Waktu yang cukup singkat untuk mempersiapkan sebuah
pernikahan. Tak henti henti Anti berdzikir dalam hati. Ia amat bersyukur mendapatkan
seorang Rizal.
Rizal adalah pria seorang sholeh. Insya Allah. Meskipun mereka sama sama masih kuliah
namun itu bukanlah penghalang bagi mereka untuk melaksanakan ibadah yang sangat
mulia ini. Dan meskipun perbedaan usia mereka yang dua tahun itu, tidak menghalangi
niat Rizal untuk memperistri Anti. Atas kehendak-Nya lah semua ini terjadi. Hingga tiba
hari itu, hari pernikahan mereka berdua. Mereka begitu tampak bahagia. Semoga
kehidupa baru yang akan mereka jalani, selalu mendapat berkah dan rahmat dari-Nya.

Surat Ayah Kepada Anaknya

Posted in


Sepucuk surat dari seorang ayah
Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum
kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang ayah kepada anaknya yang
sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik Tuhannya.
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu
belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta.
Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah
betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui,
betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku,
makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa
keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan
siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya,
hingga saat usia senja ini.
Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan
ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi
seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul
kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak.
Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada
hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya
hanya untuk Tuhan.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa
engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi,kusesali kesalahanku itu
sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang
sebenarnya. Membuatmu senantiasa erusaha memenuhi keinginan pemilikmu.
Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan
membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh
kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan
Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit. Kemudian, kitapun
memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan
lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama
lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya. Saat engkau
mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti.
Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti.Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air
matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan
kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia.
Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan.
Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan
kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.

Hadiah Terbaik Untuk Diri Sendiri

Posted in


Setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ada masa sulit
dalam berumah tangga, kehidupan karir, kesehatan, atau kehidupan pribadi yang
diguncang badai. Kebanyakan juga setuju kalau masa-masa sulit ini bukanlah
keadaan yang diinginkan. Sebagian orang bahkan berdoa, agar sejarang mungkin
digoda oleh keadaan-keadaan sulit. Sebagian lagi yang dihinggapi oleh kemewahan
hidup ala anak-anak kecil, mau membuang jauh-jauh, atau lari sekencangkencangnya
dari godaan hidup sulit.
Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap akan menyentuh
badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus datang berkunjung. Rumus besi
kehidupan seperti ini, memang berlaku pada semua manusia, bahkan juga berlaku
untuk seorang raja dan penguasa yang paling berkuasa sekalipun.
Sadar akan hal inilah, saya sering mendidik diri untuk ikhlas ketika kesulitan datang
berkunjung. Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk kesulitan. Tidak dibuat sakit
dan frustrasi saja saya sudah sangat bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti
inilah yang datang ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah
ketinggian. Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan kita
tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah kehidupan, maka
seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya modal berguna dalam hal ini.
Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir. Dan
sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, kesulitan memang
terasa seperti semprotan panasnya api mesin las, dihajar oleh palu besar,
kencangnya cubitan tang, menyakitkannya goresan-goresan amplas kasar, atau
malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti selu! ruh badan patung logam.
Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan menjadi 'patung logam' yang
lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan - dan bahkan
mungkin trauma - yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.
Cuma selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang
amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman-pengalaman menyakitkan ini,
ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat fasih memberikan nasehat. Tetapi
dengan kesediaannya untuk mendengar, sinaran mata yang berisi empati, kesediaan
untuk menjaga rahasia, sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam
keadaan-keadaan ini.
Di rumah saya memiliki seorang sahabat yang amat mengagumkan. Dari segi
pendidikan formal ia hanya tamatan SMU. Bahkan SMU tempat ia bersekolah dulu
sudah bubar, sebagai tanda ia bukanlah berasal dari sekolah yang terlalu
membanggakan. Namun nasehat serta keteladanan hidupnya kadang
mengagumkan.
Di kantor saya memiliki sejumlah bawahan yang datang sama manisnya baik ketika
dipuji maupun setelah di! maki. Seorang tetangga menelpon, mengirim SMS dan
bahkan menyempatkan diri berkunjung ke rumah. Tidak untuk memberikan ceramah,
hanya untuk mendengar. Seorang sahabat dekat yang memimpin sebuah raksasa
teknologi informasi bahkan mengatakan bangga menjadi sahabat saya.
Gede Prama ______________________________________________
rasgani@yahoo.com..................................................... 1 3. …..............................................................pdl, Nov 2006
Ketika tulisan ini dibuat, seorang sahabat lama yang tinggal di Surabaya menelepon,
tanpa bermaksud menggurui ia mengutip kata-kata indah Confucius 'Manusia salah
itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa'.
Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah hadiah
paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri. Secara lebih khusus
ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau
kita perlu menabung perhatian, empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk
berdagang dengan kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi
kelak. Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia
persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, setiap sahabat
yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga mengalami
the joy of giving. Ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh
beratnya.
Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana namanya
dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang banyak ini kemudian
bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataan inilah, maka saya lebih
memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat.
Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah
jari tangan. Cuma sesedikit apapun jumlahnya, sahabat tetap sejenis hadiah terbaik
yang bisa kita bisa berikan buat diri sendiri.
Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan
gengsinya.

Tindakan Kecil Tidak Dikenal

Posted in
Di kota Liverpool Inggris, tempat John Lennon melahirkan kelompok musik yang
pernah merubah sejarah dunia, saya pernah mengalami sebuah pengalaman
kemanusiaan yang amat menyentuh. Setelah antre cukup lama di kantor imigrasi,
guna memperpanjang visa isteri saya, lebih-lebih setelah mendengar orang di
antrean depan ditanya dan dimaki sana-sini, hati ini sempat kecut juga. Belum lagi
ditambah dengan stok tiket return yang batasnya hari itu juga. Plus tidak ada uang
untuk menyewa hotel kalau terpaksa menginap. Begitu cekaknya keuangan,
bekalpun membawa dari kota Lancaster yang berjarak sekitar empat jam perjalanan
kereta api.
Sesampai di depan petugas, saya terangkan maksud kedatangan saya. Ketika
petugas tahu, bahwa visa yang mau diperpanjang adalah visa isteri, ia bertanya
apakah saya membawa akte pernikahan. Busyet, saya lupa membawanya. Kalaupun
saya bawa, pasti ia tidak mengerti karena dalam bahasa melayu.
Saya sudah siap-siap mental dimaki sebagaimana orang Pakistan di depan, atau
disuruh kembali lain waktu. Tiba-tiba saja saya ingat lagu John Lennon yang berjudul
Imagine, yang bertutur mengenai mimpi John tentang kehidupan manusia yang
tanpa agama, bangsa dan atribut lain yang memisahkan.
Di tengah lamunan akan John Lennon tadi, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara
petugas imigrasi yang menemukan kata Bali sebagai tempat lahir isteri saya di
pasport. Dengan ekspresi yang amat bersahabat ia bertanya, di bagian mana dari
Bali ia lahir, apakah kami sekeluarga senang tinggal di Inggris, dan sederetan
pertanyaan yang sangat menghibur.
Ketika saya tanya balik, kenapa ia demikian bersahabat setelah tahu kami dari Bali,
petugas tadi menceritakan pengalaman pribadinya yang pernah ditolong orang Bali,
ketika mengalami kecelakaan saat berwisata di pulau dewata ini. Singkat cerita,
semua urusan menjadi beres hanya karena ada kata Bali di pasport.
Mirip dengan pengalaman di Liverpool, di Manchester saya juga pernah
diselamatkan nasib baik. Setelah menempuh penerbangan dari Paris yang
melelahkan, saya ikuti saja antrean manusia yang ada di depan guna diperiksa
imigrasi. Setelah pegal berdiri setengah jam, dan akan memperoleh giliran bertatap
muka dengan petugas imigrasi, baru saya tahu walau saya antre di tempat yang
keliru. Sebagai warga Indonesia, saya antre di tempat yang ditujukan untuk warga
masyarakat Eropa.
Padahal, pesawat berikut ke tempat lain mesti take off kurang dari sejam lagi.
Saya sudah pasrah, what will be, will be. Pertama-tama, tentu saja petugasnya
cemberut melihat tampang saya. Lebih-lebih setelah melihat passport yang berisi
gambar burung garuda. Namun, karena kesabaran petugas, dibuka juga itu passport
sambil bertanya, di mana saya tinggal selama di Inggris. Setelah saya jawab dengan
sebutan desa Galgate di pinggiran kota kecil Lancaster, tiba-tiba wanita di depan
saya wajahnya sumringah. Dengan akrab dia bercerita tempat lahirnya.
Penduduk desa kecil yang amat bersahabat. Buah apel yang bisa dipetik siapa saja
oleh penduduk desa Galgate. Orang-orang tua jompo yang penuh senyum dan
persahabatan tanpa pamrih dan masih banyak lagi yang lain. Dan, tiba-tiba saja

petugas imigrasi ini minta saya menunggu sebentar, sementara ia pergi membawa
passport saya ke counter lain.
Tidak lebih dari tiga menit, ia sudah mengembalikan passport saya lengkap dengan
stempel imigrasi. Sambil berpesan: sampaikan salam kangen saya buat penduduk
desa Galgate.
Boleh percaya boleh tidak, saya mengalami kejadian-kejadian seperti ini, dalam
frekuensi yang cukup sering. Sejumlah rekan Tionghoa yang mengerti petunjuk hoki,
menyebut saya manusia hoki karena bentuk hidung, telinga dan dagu yang cocok
dengan ciri-ciri hoki. Sebagai manusia biasa, saya memang memiliki banyak
kekurangan. Disebut sering suka cerita yang porno dan jorok. Suka 'ngompol'
(ngomong politik).
Berteriak kalau lagi marah besar di rumah. Wika, Adi dan Suci adalah manusiamanusia
yang paling tahu daftar kekurangan saya. Akan tetapi, sejak umur yang
sangat kecil, saya dibiasakan oleh seorang kakak, untuk mengumpulkan daftar
tindakan-tindakan kecil yang tidak bernama.
Tidak dikenal. Tidak dihitung. Namun, berguna buat alam dan orang lain.
Bukan pada tempatnya, kalau saya membeberkan daftar tindakan-tindakan saya di
kolom ini. Yang jelas, ada semacam kesegaran dalam jiwa, sesaat setelah
melakukan tindakan-tindakan tidak dikenal dan tidak bernama. Kepala yang pusing,
tiba-tiba jadi membaik. Kantong cekak yang membuat dahi berkerut, berubah
menjadi ucapan terimakasih ke Tuhan. Isteri yang tadinya kelihatan seram jadi
lembut dan cantik.
Banyak hal bisa berubah setelah melakukan tindakan-tindakan model terakhir.
Saya tidak tahu, apa ini sebuah sugesti, atau ada tangan-tangan kekuatan alam
yang membuatnya demikian. Yang jelas, alam bisa demikian perkasa dan bertahan
lama, karena bergerak dalam siklus memberi, memberi dan memberi. Rumput hijau
memberi kesejukan. Matahari membawa energi. Air menghadirkan kehidupan.
Adakah mereka membutuhkan imbalan lebih?
Belajar dari ini semua, saya berusaha untuk mematikan keran di tempat umum yang
lupa ditutup orang lain. Membukakan pintu ke orang lain yang tidak dikenal di lokasilokasi
publik. Mengembalikan posisi pohon yang roboh. Mengubur kucing yang mati
digilas mobil orang.

>> Oleh:Gede Prama

Merendah Itu Indah

Posted in
Di satu kesempatan, ada turis asing yang meninggal di Indonesia. Demikian baiknya
turis ini ketika masih hidup, sampai-sampai Tuhan memberikan kesempatan untuk
memilih : surga atau neraka. Tahu bahwa dirinya meninggal di Indonesia, dan sudah
teramat sering ditipu orang, maka iapun meminta untuk melihat dulu baik surga
maupun neraka. Ketika memasuki surga, ia bertemu dengan pendeta, kiai dan
orang-orang baik lainnya yang semuanya duduk sepi sambil membaca kitab suci. Di
neraka lain lagi, ada banyak sekali hiburan di sana. Ada penyanyi cantik
lagi bernyanyi. Ada lapangan golf yang teramat indah. Singkat cerita, neraka jauh
lebih dipenuhi hiburan dibandingkan surga.
Yakin dengan penglihatan matanya, maka turis tadi memohon ke Tuhan untuk
tinggal di neraka saja. Esok harinya, betapa terkejutnya dia ketika sampai di neraka.
Ada orang dibakar, digantung, disiksa dan kegiatan-kegiatan mengerikan lainnya.
Maka proteslah dia pada petugas neraka yang asli Indonesia ini. Dengan tenang
petugas terakhir menjawab: 'kemaren kan hari terakhir pekan kampanye pemilu".
Dengan jengkel turis tadi bergumam: 'dasar Indonesia, jangankan pemimpinnya,
Tuhannya saja tidak bisa dipercaya!'.
Anda memang tidak dilarang tersenyum asal jangan tersinggung karena ini hanya
lelucon. Namun cerita ini menunjukkan, betapa kepercayaan (trust) telah menjadi
komoditi yang demikian langka dan mahalnya di negeri tercinta ini. Dan
sebagaimana kita tahu bersama, di masyarakat manapun di mana kepercayaan itu
mahal dan langka, maka usaha-usaha mencari jalan keluar amat dan teramat sulit.
Jangankan dalam komunitas besar seperti bangsa dan perusahaan dengan ribuan
tenaga kerja, dalam komunitas kecil berupa keluarga saja, kalau kepercayaan tidak
ada, maka semuanya jadi runyam. Pulang malam sedikit, berujung dengan adu
mulut. Berpakaian agak dandy sedikit mengundang cemburu.
Di perusahaan malah lebih parah lagi. Ketidakpercayaan sudah menjadi kanker yang
demikian berbahaya. Krisis ekonomi dan konglomerasi bermula dari sini. Buruh yang
mogok dan mengambil jarak di mana-mana, juga diawali dari sini. Apa lagi krisis
perbankan yang memang secara institusional bertumpu pada satu-satunya modal :
trust capital.
Bila Anda rajin membaca berita-berita politik, kita dihadapkan pada siklus
ketidakpercayaan yang lebih hebat lagi. Polan tidak percaya pada Bambang.
Bambang membenci Ani. Ani kemudian berkelahi dengan Polan. Inilah
lingkaranketidakpercayaan yang sedang memperpanjang dan memperparah krisis.
Dalam lingkungan seperti itu, kalau kemudian muncul kasus-kasus perburuhan
seperti kasus hotel Shangrila di Jakarta yang tidak berujung pangkal, ini tidaklah
diproduksi oleh manajemen dan tenaga kerja Shangrila saja. Kita semua sedang
memproduksi diri seperti itu.
Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan rumah, eh
ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan pengirimnya :
tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja: bagaimanakah reaksi
Anda? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke ribuan orang. Dan
jawabannyapun amat beragam.

Kaya Karena Sederhana

Posted in


Menjadi orang kaya, itulah cita-cita banyak sekali orang. Hal yang sama juga pernah
melanda saya. Dulu, ketika masih duduk di bangku SMU, kemudian menyaksikan
ada rumah indah dan besar, dan di depannya duduk sepasang orang tua lagi
menikmati keindahan rumahnya, sering saya bertanya ke diri sendiri : akankah saya
bisa sampai di sana?. Sekian tahun setelah semua ini berlalu, setelah berkenalan
dengan beberapa orang pengusaha yang kekayaan perusahaannya bernilai triliunan
rupiah, duduk di kursi tertinggi perusahaan, atau menjadi penasehat tidak sedikit
orang kaya, wajah-wajah hidup yang kaya sudah tidak semenarik dan seseksi
bayangan dulu.
Penyelaman saya secara lebih mendalam bahkan menghasilkan sejumlah ketakutan
untuk menjadi kaya. Ada orang kaya yang memiliki putera-puteri yang bermata
kosong melompong sebagai tanda hidup yang kering. Ada pengusaha yang menatap
semua orang baru dengan tatapan curiga karena sering ditipu orang, untuk
kemudian sedikit-sedikit marah dan memaki. Ada sahabat yang berganti mobil
termewah dalam ukuran bulanan, namun harus meminum pil tidur kalau ingin tidur
nyenyak. Ada yang memiliki anak tanpa Ibu karena bercerai, dan masih banyak lagi
wajah-wajah kekayaan yang membuat saya jadi takut pada kekayaan materi.
Dalam tataran pencaharian seperti ini, tiba-tiba saja saya membaca karya Shakti
Gawain dalam jurnal Personal Excellence edisi September 2001 yang menulis : ?If
we have too many things we dont truly need or want, our live become overly
complicated?. Siapa saja yang memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul
dibutuhkan, kehidupannya akan berwajah sangat rumit dan kompleks.
Rupanya saya tidak sendiri dalam hal ketakutan bertemu hidup yang amat rumit
karena memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul diperlukan. Shakti Gawain
juga serupa. Lebih dari sekadar takut, di tingkatan materi yang amat berlebihan,
ketakutan, kecemasan, dan bahkan keterikatan berlebihan mulai muncul.
Masih segar dalam ingatan, bagaimana tidur saya amat terganggu di hari pertama
ketika baru bisa membeli mobil. Sebentar-sebentar bangun sambil melihat garasi.
Demikian juga ketika baru duduk di kursi orang nomer satu di perusahaan.
Keterikatan agar duduk di sana selamanya membuat saya hampir jadi paranoid.
Setiap orang datang dipandang oleh mata secara mencurigakan. Benang merahnya,
kekayaan materi memang menghadirkan kegembiraan (kendati hanya sesaat),
namun sulit diingkari kalau ia juga menghadirkan keterikatan, ketakutan dan
kekhawatiran. Kemerdekaan, kebebasan, keheningan semuanya diperkosa habis
oleh kekayaan materi.
Disamping merampok kebebasan dan keheningan, kekayaan materi juga
menghasilkan harapan-harapan baru yang bergerak maju. Lebih tinggi, lebih tinggi
dan lebih tinggi lagi. Demikianlah kekayaan dengan amat rajin mendorong manusia
untuk memproduksi harapan yang lebih tinggi. Tidak ada yang salah dengan memiliki
harapan yang lebih tinggi, sejauh seseorang bisa menyeimbangkannya dengan rasa
syukur. Apa lagi kalau harapan bisa mendorong orang bekerja amat keras, plus
keikhlasan untuk bersyukur pada sang hidup. Celakanya, dalam banyak hal terjadi,
harapan ini terbang dan berlari liar. Dan kemudian membuat kehidupan berlari
seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri.

Berefleksi dan bercermin dari sinilah, saya sudah teramat lama meninggalkan
kehidupan yang demikian ngotot mengejar kekayaan materi. Demikian tidak
ngototnya, sampai-sampai ada rekan yang menyebut saya bodoh, tidak mengerti
bisnis, malah ada yang menyebut teramat lugu. Untungnya, badan kehidupan saya
sudah demikian licin oleh sebutan-sebutan. Sehingga setiap sebutan, lewat saja
tanpa memberikan bekas yang berarti.
Ada sahabat yang bertanya, bagaimana saya bisa sampai di sana ? Entah benar
entah tidak, dalam banyak keadaan terbukti kalau saya bisa berada di waktu yang
tepat, tempat yang tepat, dengan kemampuan yang tepat. Ketika ada perusahaan
yang membutuhkan seseorang sebagai pemimpin yang cinta kedamaian, saya ada
di sana. Tatkala banyak perusahaan kehilangan orientasi untuk kemudian mencari
bahasa-bahasa hati, pada saat yang sama saya suka sekali berbicara dan menulis
dengan bahasa-bahasa hati. Dikala sejumlah kalangan di pemerintahan mencari-cari
orang muda yang siap untuk diajak bekerja dengan kejujuran, mereka mengenal dan
mengingat nama saya. Sebagai akibatnya, terbanglah kehidupan saya dengan
tenang dan ringan. Herannya, bisa sampai di situ dengan energi kengototan yang di
bawah rata-rata kebanyakan orang. Mungkin tepat apa yang pernah ditulis Rabin
Dranath Tagore dalam The Heart of God : ?let this be my last word, that I trust in
Your Love?. Keyakinan dan keikhlasan di depan Tuhan, mungkin itu yang menjadi
kendaraan kehidupan yang paling banyak membantu hidup saya.
Karena keyakinan seperti inilah, maka dalam setiap doa saya senantiasa memohon
agar seluruh permohonan saya dalam doa diganti dengan keikhlasan, keikhlasan
dan hanya keikhlasan. Tidak hanya dalam doa, dalam keseharian hidup juga
demikian. Ada yang mau menggeser dan memberhentikan, saya tidak melawan. Ada
yang mengancam dengan kata-kata kasar, saya imbangi secukupnya saja. Ada
sahabat yang menyebut kehidupan demikian sebagai kehidupan yang terlalu
sederhana dan jauh dari kerumitan. Namun saya meyakini, dengan cara demikian
kita bisa kaya dengan jalan sederhana.

PUISI PERSAHABATAN

Posted in

Judul:Arti Persahabatan


Hidup ini bagaikan teka teki
di mana kita harus menebak ......
semua tangga yg terlihat hitam ataupun putih
kadang di saat kita bahagia sekali pun

Bagaikan air yg terus mengalir
tanpa menghiraukan .......
bahwa esok akan ada yg menantikan kesedihan
di saat dan dengan keadaan apa pun

Aku bisa merasakan arti persahabatan
yang seutuhnya ya.......itulah kawanku , temanku...
sahabatku yg selalu membuat aku
melupakan kesedihan dan kembali melangkah dengan ceria ....

Ku angkat wajahku......
ku buang rasa sakitku.....
ku ringankan langkahku....
ku ayun tanganku......

Satu hal yg akan ku ingat selamanya
Satu sahabat lebih baik dari apa pun
Karena dia mampu memberikan pegangan
Di saat kita terhuyung dan terjatuh
Dia jg mampu membuat kita tersenyum kembali dalam canda tawanya ...



Judul:Sepatah Kata Buat Sahabatku

Bisik jiwa tlah terputus dalam satu hembusan nafas
Janji suci tlah kau ingkari tuk bersama
Dalam tawa dan duka
Yakinlah selalu … sobat
Bawa segala luka yang menyobek hatimu
Adalah pisau yang mengalir di setiap tetes darahku
Kesedihan yang nampak di raut mukamu
Adalah kepedihan terdalamku
Ketidakramahan dirimu adalah penyobek hatiku
Taukah kau sobat?
Bahwa secercah tawa yang dulu slalu menghiasi wajahmu
Kini tlah pudar dan bukan lagi
Kebanggaan dalam tali hati antara kau dan aku
Kini kau telah melepas jemari itu
Padahal aku rapuh tanpa tangan itu
Aku ingin kau selalu menjaga dan melindungiku
Sobat …
Sebuah tamparan yang selalu kudapat bila kusalah
Sebuah bimbingan yang selalu merangkulku bila kulemah
Kini tak akan pernah kudapati lagi
Kemana aku harus mencari itu semua?
Kau pergi tanpa mengucap sepatah kata pun
Kau telah memutus persahabatan itu
Persahabatan yang suci
Kini tlah kau nodai dengan kebungkaman, kebohongan, dan kebosanan
Semuanya penuh kepura-puraan
Kau jadikan persahabatan
Sebagai tempat berlabuh
Tuk mencari pengalaman kehidupan
Kenapa kau lakukan ini?
Ku diam dalam kebungkaman yang penuh kesakitan
Sedangkan dirimu tertawa penuh keriangan
Lalu kini ku bertanya:
Apa menurutmu seorang sahabat?
And sahabat yang tulus seperti apa?
Kau hanya diam tak bisa menjawab
Sobat …

Maafkan diri ini bila diri ini bersalah
Meski kau telah pergi
Bagiku kau selalu ada dalam hatiku
Karena kau adalah sahabatku
Dari dulu dan sampai kapan pun

Judul:Persahabatan


Kata orang…..
Ibarat tangan dan mata
maka terangkailah sebuah kata “PERSAHABATAN”
Pada saat tangan terluka, mata meneteskan air,
dan ketika mata meneteskan air,
tangan juga yang mengusap air itu

Indah ternyata
tapi punya banyak arti, walaupun hanya
seuntai kata “PERSAHABATAN”…
kadang pelakunya sering salah mengartikan…atau
ada juga yang dengan sengaja mengabaikan..
entah karena rasa egois, atau mungkin karena
perputaran roda kehidupan yang selalu menuntut
untuk kita selalu mengikuti roda kehidupan yang berputar

Tidak semudah itu dipahami…
tapi andaikan kita mencoba sesaat saja….
berada di posisi mereka yang dengan tulus mengartikan kata itu….
maka kita akan tahu makna sesungguhnya
KEJUJURAN, KEPERCAYAAN, KESETIAAN…..
semua itu terpatri jelas didalam kata itu
tinggal bagaimana sebagai pelaku kita menjalaninya
Cukup sulit menjalaninya tidak semudah diungkapkan

Karena tanpa kejujuran, kepercayaan dan kesetiaan
maka PERSAHABATAN hanyalah sebuah tulisan kosong belaka
tanpa makna apapun, tetapi…
itu bukan berarti kita harus menutup mata…
ketika KETIDAKJUJURAN itu hadir
karena pada saat itulah kita menang
dalam satu ronde peristiwa yang disebut “KEHIDUPAN”



Sumber:Sofian Bengkulu's Blog