Follow me on Twitter RSS FEED

ALLOH SIAPKAN AKU BILA ENGKAU INGIN BERTEMU

Posted in


Pernahkah Anda melihat seseorang menjelang sakaratul maut? Berapakali Anda melihat
mereka yang terbelalak ketakutan, yang kesakitan atau yang hanya seperti hendak tidur?
Aku punya seorang teman dekat di SMU I Binjai bernama Wati. Ia dara berjilbab yang
sangat cantik, supel, berbudi, senang menolong orang lain dan selalu menjadi juara kelas.
Maka seperti mendengat petir disiang hari, saat kudengar ia yang sudah sekian lama tak
masuk sekolah ternyata mengidap kanker rahim. Bahkan sudah menyebar hingga stadium
empat!!
Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah motor segala kegiatan
dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai
siapapun. Sungguh, kami tak memiliki Wati yang lain. Maka betapa pedih menatapnya
hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang. Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi.
Setelah sakit berbulan-bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami!
"Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun," kata ibunya sambil mengusap air matanya.
Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan Wati berusaha
untuk bangun. Kami semua tercengang saat ia berdiri dan berjalan melintasi kami seraya
berkata dengan suara nyaris tak terdengar, "Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha."
Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah itu ibunya
memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali membaringkannya di
tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat sambil berdiri. Hening. Tak seorang pun
yang bersuara saat ia melakukan shalat Dhuha. Selesai shalat, saat ibunya akan
membukakan mukena, ia melarang dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah
ibu, ayah dan adik-adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus
terdengar asma Allah. Kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan tangis.
Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan penuh sayang.
Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya bergantian. Kini kulihat
butiran bening menetes dari sudut matanya. Lalu susah payah ia mengangkat kedua
tangannya dan mendekapkannya di dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya
sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat lancar. Innalillaahi wa inna
ilaihi rooji'uun. Ia telah pergi untuk selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua.
Dadaku berdebar, lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat
sempurna dalam usia yang baru 18 tahun. Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku
mencium wewangian. Tubuhku bergidik. Aku menangis terisak-isak.
Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu?

0 komentar:

Posting Komentar