Follow me on Twitter RSS FEED

TIDAK BU,BARANG ITU BUKAN MILIK SAYA

Posted in
Meli tak menyangka akan begini jadinya. Ia terus berlari dan berlari, menghindari
kerumunan dan amukan massa di sekitar Jakarta Barat. Dari kejauhan terlihat jilatan api
dari beberapa gedung dan sisa asap pembakaran mobil. Massa yang beringas 􀂲yang
entah datang dari mana􀂲 bersorak sorai. Kemudian terdengar suara-suara sumbang
penuh hasutan: “Cari Cina! Cari Cina!”
Beberapa mata mulai memandangnya. Meli bergidik. Beberapa mata mulai merasa
menemukan sasaran. Meli menatap ke depan. Lengang, tak ada satu kendaraan pun yang
bisa membawanya pergi dari tempat itu. Cemasnya menjadi-jadi. Apa yang harus
dilakukannya sekarang? Berlari sekuat-kuatnya? Masuk ke rumah penduduk? Mereka
telah menutup pintu rapat-rapat tanpa berani membukanya, setidaknya saat ini. Lalu?
Matanya mulai nanar.
Tiba-tiba di antara bayangan kepulan asap, tampak seorang lelaki tua lusuh dengan
sebuah sepeda kusam tua, menghampirinya. “Ibu Cina ,ya! Ibu mau kemana? Cepat naik
ke sepeda saya, bu! Cepat!!”
“Ojek sepeda ya…, pak?”
Bapak dengan baju tambalan di sana sini itu mengangguk pelan.
Tanpa berpikir panjang, Meli segera naik ke atas sepeda tersebut. Si Lelaki tua mengayuh
sepedanya kuat-kuat disertai peluh bercucuran yang membasahi bagian punggung
bajunya, meninggalkan massa yang berpesta dalam amukan dan beberapa pasang mata
liar yang urung mengejar mereka.
Sampai di belakang Glodok Plaza, Meli melihat banyak orang mengambil barang dari
dalam toko-toko di sekitar sana. Dengan wajah puas orang-orang itu mengangkuti
televisi, radio, komputer, kulkas sampai mesin cuci dan lain sebagainya. Meli tak
mengerti. Mungkinkah barang-barang itu diberikan oleh pemiliknya agar toko tersebut
tak dibakar? Atau massa yang menjarahnya? Beberapa tentara tampak berjaga-jaga,
namun tak melarang siapa pun yang ingin mengambil barang.
Di sudut yang sepi, Meli menyuruh bapak tua itu berhenti.
“Ada apa, bu?”
“Pak, mendingan bapak ikut ambil barang-barang itu dulu. Biar sepedanya saya yang
jagain. Itu orang-orang pada ngambil. Ambil dulu, pak!” ujar Meli. Hatinya tergetar
melihat kemiskinan dan perjuangan lelaki tua ini untuk menghidupi keluarganya. Ya, apa
salahnya ia menunggu sebentar dan menjaga sepeda ini sementara bapak itu mengangkuti
barang yang bisa dia bawa pulang.
Di luar dugaan, bapak tua itu menggeleng dan tersenyum getir. “Tidak, bu. Barang itu
bukan milik saya. Bukan barang halal. Saya muslim, bu.”
Meli tercengang beberapa saat. Benar-benar terenyuh. Orang tak mampu seperti ini,
ternyata punya prinsip hidup yang sangat mulia.
Saat sampai di tujuan, bapak itu hanya meminta ongkos tiga ribu rupiah, jumlah yang tak
berbeda dengan bila tak ada kerusuhan. Meli memberinya empat ribu, dan bapak tua itu
meninggalkannya dengan riang. “Terimakasih, bu.”
Meli menatap lelaki tua itu hingga menjadi titik di kejauhan. Ia telah mendapat satu
pelajaran yang luar biasa. Bukan dari siapa-siapa. Hanya dari seorang miskin, seorang
muslim, seorang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Dan dengan bangga, Meli
menceritakannya pada saya.

0 komentar:

Posting Komentar